Selasa, 19 Agustus 2014

Marco dan Hujan




Buku itu ku simpan kembali ditempatnya. Ku letakkan diantara kamus – kamus, berharap kamus – kamus besar itu dapat menutupi buku kecil yang tersimpan banyak kenangan indah bersama Marco. Marco memang mampu menciptakan banyak kisah indah yang kini kisah itu menjadi kenangan diantara kamus – kamus besar.
Aku Meidy, seorang pencinta hujan. Ketika hujan datang hati yang sedang gersang mendadak basah dan segar dengan hujan yang ada di luar sana seperti kedatangan seorang mahasiswa transfer bernama Marco 3 tahun lalu di kelas sastra. Dia seperti pria pada umunya, tinggi, beramput cepak, tapi ia kelihatan lebih putih di bandingkan laki – laki pada umumnya. Marco berjalan pada kursi kosong di samping jendela yang akan menyajikan pemandangan berupa lapangan sepak bola. ‘Pilihan yang baik’ kataku dalam hati. Aku berada di seberang ruangan, persis di sebelah tembok. Aku bukan seorang mahasiswa teladan yang akan mendengarkan penjelasan dosen, karena aku juga seorang penyiar malam, maka tembok adalah bantal yang baik untuk menggantikan tidurku. Aku dan Marco hanya bertemu di kelas sastra dan duduk di samping jendela adalah kebiasaannya. Ketika hujan turun aku memiliki dua pemadangan yang indah. Sangat indah. Marco dan hujan.
Tanpa disadari oleh Meidy, bukan hanya ia yang memiliki pemandangan indah dalam ruangan 5x8 m itu, ia juga menjadi pemandangann indah bagi seseorang yang duduk di samping jendela itu.
“ Mei... !!” Teriak Amel seorang teman ku.
Refleks aku tersentak dan kepalaku membetur jendela yang ada sejak kampus itu berdiri.
“Owww... Kenapa?” Aku bertanya sambil mengosok – gosok kepalaku.
“Tuuu....” Kata Amel sembari menunjuk ke arah Marco yang sudah berada di pintu.
Hari ini aku dan Amel sudah berencana untuk mengikuti Marco dan mencari tahu dimana tempat tinggalnya.
“Yookk,, cepet..cepet....!” Aku langsung bergegas, memasukkan buku ku secara acak kedalam tas.
Amel menarikku, kami berdua berlari disepanjang lorong berharap menemukan punggung Marco. Sudah beberapa kali kami mencoba mengikutinya dan selalu aku yang paling bersemangat namun kali ini, Amel menjadi yang paling bersemangat. Kami berlari melintasi lapangan sepak bola agar bisa sampai di gerbang depan lebih cepat.
“Kita tunggu disini aja Mei, mungkin aja di marco belom keluar dari gerbang” kata Amel yang secara otomatis seperti rem yang menghentikan laju kakiku.
“Ia,,ia,,, aku juga haus. Kamu mau es bang Kumis? Aku traktir deh..” kata ku menunjukkan mata berbinar – binar melihat warung es bang kumis di seberang sana.
“Boleh” sahut Amel singkat, tapi matanya masih celingak – celinguk mencari keberadaan Marco.
Aku berlari ke sebrang jalan, mengambil 2 es krim ala bang Kumis yang satu rasa coklat untuk Amel, yang vanila untuk aku. Aku merogoh – rogoh tas ku, berharap menemukan dompetku, tapi tak ada ditempatnya. ‘waduh.. dimana aku menjatuhkannya’ batinku sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan dompet itu. Aku mengembalikan es krim yang ada di tangan ku dan berlari menghampiri Amel.
“Mel, gimana? Marco udah lewat?” tanyaku “Belom Mei, mana esnya?”
“Nahhh.. itu dia, dompet ku hilang. Kamu balik duluan aja, aku mau cari dulu di tempat – tempat yang udah kita lewati”
“Ngak mau di temenin?” Amel menawarkan diri.
“Gak usah... daaaa...” jawab ku tak ingin merepotkan.
            Udara seakan – akan bersahabat. Mentari yang tadi terik, kini telah bersembunyi di balik awan. Aku pun teringat apakah dompet ku jatuh di lapangan ya? Aku segera berlari cepat menyusuri lapangan, ketika sedang serius mencari.... beerrrrr.... hujan turun dengan derasnya. Banyak anak – anak yang sudah berlarian kesana kemari mencari tempat berteduh, ‘ahhh,, dompet ku lebih penting sekarang’ akhirnya aku memutuskan tetap berada di tengah lapangan dikala hujan turun dengan derasnya. Sementara itu dalam sebuah ruangan kelas, ada sebuah tangan kurus yang menemukan sebuah dompet Milk Teddy berwarna coklat dan ia duduk di kursi dekat dompet itu, sambil memandang ke lapangan sepak bola, didapatinya seorang gadis yang tengah  asik bersama hujan. Sosok itu tersenyum sambil memandang dompet yang ada di tanganya.
            Meidy sampai di kosnya dengan basah kuyup dan tentunya dengan berjalan kaki, tidak ada yang mau memberinya tumpangan secara gratis, karena ia tidak punya uang sepeserpun. Malam  Meidy juga gak berangkat siaran. Setelah menelpon bosnya ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ternyata Marco.
“Meidy, ini.” Marco sudah berdiri didepannya sambil memberikan dompetnya.
“Kok bisa?” tanya Meidy heran.
“Ia, tadi setelah kelas sastra aku lanjut kelas statistika di ruangan itu, dan kursi yang biasa kamu tempati adalah kursi yang biasa aku tempati di kelas – kelas lainnya. Eemmm...sebenarnya, aku suka kamu”
Meidy membelalak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Marco. “Apa? kalimat yang terakhir kamu bilang apa?” Meidy meminta Marco mengulangi takut ia salah dengar.
“Aku suka sama kamu, Meidy Ayundia.” Jawab Marco singkat sambil menatap Meidy dalam – dalam.
‘Aku juga’ jawab Meidy dalam hati. Pipinya kini merona merah. Entah apa yang harus dilakukannya. Ia harus tersenyum atau berteriak sekencang – kencangnya. Ia memilih diam.
Aku sudah berjanji akan bertemu dengan Marco di kampus setelah ia selesai kuliah. Aku menunggu didepan pintu kelasnya.
“Mei, udah dari tadi?” tanya Marco lembut. Meydi hanya menjawab dengan senyum.
“Yuk..” Marco menggenggam tangan Meidy.
“Disini saja. Kita bicarain bertiga” Jawab Meidy sambil menahan dirinya enggan mengikuti Marco. Wajah Marco terlihat bingung mendengar kalimat ‘bertiga’
“Sama siapa?” tanya Marco sambil meneliti siapa lagi orang yang akan bergabung dengan mereka.
“Amel” jawab Meidy singkat sambil menatap sosok yang baru saja datang dari punggung Marco. Marco berbalik dan semakin bingung melihat Amel yang sudah ada dibelakangnya.
“Maaf, aku baru tahu kalau Amel juga suka sama kamu, aku ga bisa sama – sama kamu, sementara temanku juga merasakan hal yang sama” Meidy memberanikan diri utuk berbicara sambil mentap mata Marco.
“Mei, tapi...” belum sempat Marco menyelesaikan kalimatnya
“Aku juga suka sama kamu” Pengakuan Amel semakin membuat Marco menjadi bingung.
“Mungkin bukan kamu yang terbaik untuk aku. Mungkin bukan kamu cara ku untuk mendapatkan kebahagiaan. Lebih baik kalau kita berteman. Kita akan bahagia dengan cara yang seperti itu” itulah kalimat terakhir dari Meidy sebelum ia meninggalkan koridor yang kini terasa menjadi kenangan buruk baginya. Hari – hari kemarin, koridor itu penuh dengan kegembiran, canda dan tawa, ia berlari bersama Amel mencari Marco, bersama Marco menyelesaikan tugas – tugas sastra.
Aku bahagia, ketika keputusan itu di buat bertepatan dengan hujan yang deras membasahi kota itu, setidaknya ia tak tahu bahwa ada hati yang tersakiti, ada air mata yang membasahi pipi. Aku berjalan pulang di bawah hujan, sekalipun ku menangis tak ada yang akan melihatnya.
Pilihan yang pahit akan menghancurkan  hatimu, tetapi alam akan membantumu tersenyum . .

Minggu, 06 April 2014

Karena Hujan Punya Cara Tersendiri Untuk Bercerita


Hari ini kota dingin di lereng Gunung Merbabu sedang diguyur hujan. 6 April 2014 sekitar pukul 15.36 saya duduk disebuah kursi panjang di depan fakultas sambil mencoba menceritakan sebuah kisah tentang hujan.

Meidy bertemu dengannya pada saat hujan mengguyur kota yang terkenal dengan lumpianya. Ia menunggu bis menuju ke sebuah tempat, tempat yang paling disukainya, sebuah lapangan badminton. Halte bus itu sangat dekat dengan lampu merah ‘bangjo’ (abang ijo) begitulah orang – orang dikota ini menyebut salah satu tanda lalu lintas itu. Hujan membuat beberapa orang pengendara motor yang tidak membawa jas hujan menjadi tidak sabar. Suara klakson mulai memenuhi telinga ketika lampu merah telah tergantikan oleh nyala lampu hijau. Meidy masih menunggu bus yang membawanya ke lapangan badminton datang.
Merasa hampir putus asa, tak lama kemudian sebuah bus datang, keneknya sudah berteriak sekencang – kencangnya melawan suara hujan “Pahlawan..pahlawan”
Suara teriakan itu membuat Meidy tersenyum setelah sekian lama berdiri di halte. Ia mengangkat tangannya lalu melompat ke bus tersebut. Bus membawanya ke jalan Pahlawan. Ia kemudian berpikir lagi, bagaimana caranya masuk ke GOR sedangkan ia tak membawa payung. Tak alma kemudian sampailah dia di halte bus pahlawan, sekali lagi ia menunggu, kali ini bukan menunggu bus melainkan menunggu kpan hujan ini berhenti dan ia dapat brlari sekencang – kencangnya ke GOR.
‘hari yang tak beruntung’ keluh Meidy dalam hati.

Dari kejauhan ada seseorang yang memperhtikannya, Arif mempercepat laju motornya dan menghampiri Meidy.
“Mbak, mau ke GOR?” tanya pria itu sambil membuka kaca helmnya.
Yang terlihat oleh Meidy hantalah kumis yang berbaris rapi, sebuah hidung yang menyerupai paruh burung dan mata yang sayup.
‘heemm.. emang aku kayak mbak..mbak ya?’ Meidy  mengerutkan kening melihat laki – laki yang ada didepannya.
“Mbak...Mbak...” kali ini Arif melambaikan tangannya didepan Meidy.
“Ehhh,, ia,,ia.. ini mau ke GOR, tapi....”
“Udah, bareng aja.” Belum sempat Meidy mengatakan alasannya Arif sudah memotong kalimatnya.
Tak ada pilihan lain, Meidy akhirnya ikut dengan Arif.
“Masuk ke dalam mantel aja, hujannya lumayan deras ni...” kata Arif sambil mengangkat mantel bagian belakang dengan tangan kirinya.

“Makasih yaaa....” kata Meidy singkat sambil bergabung dengan teman – temannya yang sudah menunggu dari tadi.
Seperti itulah Meidy, singkat dan apa adanya. Meidy menyukai Badminton sejak ia di Sekolah Dasar, ia juga tidak berasal dari kota ini. Ia ada di kota ini untuk menemukan masa depannya. Ketika sedang beristirahat Arif menghampiri Meidy..
“Boleh minta air?”
“Ehhh,, ya...” kata Meid sambil memberikan botol minumnya yang ada di tangannya.
“Aku lupa bawa, tadi buru – buru”
“Ia, ga apa”
“Makasih ya..” Kata Arif setelah meneguk air dan memberikan botolnya kepada Meidy.

“Rif... ayo....” teriak seorang teman Arif dari lapangannya.
Arif mengangkat jempolnya yang artinya ‘oke’
“Aku kesana ya... sekali lagi makasih” pamit Arif.
Meidy Cuma tersenyum sambil mengangguk. Arif berdiri dan berjalan ke lapangannya. Dari belakang hanya terlihat seperti seorang pria dengan potongan rambut yang rapi, tinggi kira – kira 170cm dan ia terlihat kurus dibalik setelah Yonex merah hitam yang dipakainya. Setelah itu Meidy tidak lagi bermain, ketika teman – temannya mengajak ia memberikan alasan ingin istirahat. Meidy berbohong. Ia mulai menikmati pemandangan yang ada didepannya. Ia menyukai cara Arif bermain. Beberapa kali Arif menoleh kearahnya dan menangkap matanya yang sedari tadi menatap Arif. Arif hanya tersenyum.

“Pulang sama siapa?” Suara Arif tiba – tiba terdengar dibelakang Meidy saat ia menunggu Bus yang akan mebawanya ke Halte Bus tempat ia menunggu 4 jam yang lalu.
“Sama banyak orang di bus”
“Hehehehe,, kamu ternyata lucu juga ya” Arif turun dari motornya dan berdiri disebelah Meidy.
“Apanya yang lucu? Aku Cuma menjawab pertanyaan mu”
“Yaaa,,, berarti pertanyaan ku salah ya?”
Meidy Cuma mengangkat bahu.
“Kamu kalo lagi main, muka mu serius sih.. jadinya ku pikir kamu orangnya yaaa... gitu deh... ehh,, ga taunya lucu juga”
“Kamu pikir aku badut? Lucu.”
“Ya,, sorry,,sorry... makan bakso yuk”
“Aku ga suka sembarangan bakso” Meidy emang suka bakso, tapi hanya bakso – bakso tertentu. Ia takut dengan berita – berita di tv tentang bahan pengawet dalam bakso.
“Ada deh.. Baksonya enak. Langganan ku, orangnya baik, porsinya oke, harganya pas” pejelasan Arif seperti seorang sales.
“Aku ga bawa helm” jawab Meidy yang artinya ia.
“Ooo.. ga apa. Aku tahu jalan yang aman”
Meidy mengikuti Arif dibelakangnya dan duduk di motor yang tadi membawanya ke GOR. Duduk dibelakang Arif terasa biasa saja, hanya saja harum parfum yang tadi masih terasa hingga sekarang, baunya tidak berubah.
Meidy melamun sepanjang jalan dan tanpa terasa ia seperti mengenali jalan ini.
Ia menepuk bahu Arif berkali – kali.
“Ehh,, aku bukan tukang ojek.”
“Hahaha,, bukan .. bukan... aku tahu jalan ini, bagaimana kalau ke bakso langganan ku saja.” Tawa pertama Meidy yang didengar oleh Arif.
“Emm, hari ini ke langganan ku, besok baru ke langganan kamu”
“Yaa, boleh deh” kata Meidy menyerah.

Bakso Pak Kumis.
“Maksudku juga tempat ini” kata Meidy girang.
“Hahahaha”
Mereka berdua masuk kedalam dan disambut hangat oleh Pak Kumis. Pak Kumis memang memiliki Kumis sesuai dengan namanya.
“Bungkus atau makan disini?” tanya pak Kumis di balik gerobaknya.
“Makan disini” jawab Arif dan Meidy bersamaan.
“Lah,, tumben Mas Arif makan disini? Biasanya bungkus”
“Ia ni pak. Lagi ngajak cewek jadinya ga enak kalo ditinggal makan sendiri”
“hahahahaha” ketiganya tertawa.
“Mbak Meidy, seperti biasa?”
Meidy menjawab dengan 2 jempol teracung ke atas. Mereka berdua mencari tempat duduk.
“Aku Arif”
“Udah tau, tadi udah disebut sama pak Kumis. Aku Me..”
“Udah tau, tadi udah disebut sama pak Kumis. Meydi.”
Hahahaha.. keduanya tertawa bersama. Arif mengantar Meidy kembali ke halte bus sesuai dengan permintaan Meidy.

Hari – hari berlalu..
Meidy dan Arif semakin dekat. Pada awalnya mereka bercerita tentang badminton, bersama – sama pergi ke toko olahraga, selama 5 bulan mereka berteman, Meidy pindah ke club badminton Arif, karena teman – teman club sebelumnya sudah memiliki kesibukan – kesibukan lain. Selama 5 bulan, Meidy  dan Arif bertemu di Halte Bus baik ketika Arif menjemput ataupun ketika Arif mengantar pulang. Arif tetap setia menunggu Meidy berlari sepanjang jalan sampai ke halte itu dan Meidy tetap menunggu Arif, duduk dikursi paling pojok. Hingga suatu hari setelah pulang dari GOR, Arif mengantar Meidy ke halte bus seperti biasanya. Setelah Meidy turun, Arif masih duduk diatas motornya dan membuka helmnya.
“Meidy, kamu senang main sama aku?”
“Tentu..”
“Enak ga jadi partner ku kalo badminton?”
“Enak lah,, aku ga perlu capek, kamu yang paling semangat, aku cukup menunggu bola depan saja”
“hahahahaha.. bilang aja kamu malas”
“Ya udah kalau gitu jangan main lagi sama aku”
“mulai,,, mulai... hobby mu selain badminton apa? Marah – marah ya?
Meidy hanya tersenyum.
“Mau ga jadi partner ku selamanya?”
“ia,,, oke bos..”
“beneran? Jadi partner hidupku?”
Meidy membelalak, senyumnya berubah.
“Maksudnya?” Meidy tidak lagi tersenyum
“Kamu mau jadi pacar ku?” tanya Arif hati – hati setelah melihat wajah Meidy berubah.
Arif terhentak, hampir terjatuh dari motornya ketika Meidy memeluknya dan mengangguk – angguk di belakang kepalanya, masih dalam pelukannya.
Arif tersenyum lega, sambil membalas pelukan Meidy dan tangannya tertahan pada tas raket di punggung Meidy. Ia memandang ujung tas raket yang hampir masuk ke matanya dengan terus tersenyum. Senyum yang paling bahagia. Bagaimana tidak, Arif sudah sejak lama memperhatikan Meidy, ia selalu menjadi satu – satunya wanita dalam clubnya sebelumnya. Meidy selalu serius ketika bermain dan akan marah dengan berteriak – teriak apabila ia tidak mampu mengembalikan bola.
28 Agustus 2009 menjadi jawaban bagi Arif. 2 bulan Meidy bermain di GOR itu dan 5 bulan mereka berteman adalah harga yang harus ia bayar untuk medapatkan pelukan ini. Senyumnya semakin lebar mengingat saat pertama ia menghapiri Meidy di halte bus dekat GOR.
Tiba – tiba hujan turun lagi...
Meidy cepat – cepat melepaskan pelukannya dan Arif berlari mengkutinya dari belakang untuk berteduh di halte bus itu.
Mereka tertawa bersama, tertawa bahagia.
“Aku senang bila hujan turun” Arif menghentikan tawa mereka.
“Kenapa?”
“Aku selalu mendapatkan saat – saat terindah dikala hujan”
“Oyaa?”
“Hemm, kalau saja waktu itu tidak hujan, dan kamu tidak menunggu di halte dekat GOR mungkin aku hanya bisa ngeliat kamu aja, ga bisa ngobrol”
“Emang kita pernah bertemu sebelumnya?” Meidy bingung.
“Ia” Kata Arif menarik lembut pipi Meidy dengan kedua tangannya.
“Kapan?” Meidy bertanya dengan suara aneh karena tangan Arif belum lepas dari pipinya.
“7 bulan yang lalu. Kamu datang pertama kali di GOR. Aku dah naksir dari 7 bulan lalu.” Kata Arif sambil melepaskan tangannya dari pipi Meidy.
“Masa iya? Wahh aku mempesona ya?” pipi Meidy merona merah, entah karena cubitan itu atau karena ia tersipu.
“Ia, karena galak mu itu”
“Hahahahaha” keduanya kembali tertawa bersama.
Kini yang mereka bicarakan bukan lagi masalah badminton melainkan kisah – kisah tentang mereka. Arif sering mengajak Meidy kerumahnya, bermain bersama keponakannya dan Meidy sudah mengenal kedua orang tua Arif. Mereka menyayangi Meidy seperti anak mereka sendiri.

Sayang, happy 3rd Anniversary..
Love you my lovely.

Sms Arif masuk ke HP Meidy. Tak terasa sudah 3 tahun mereka bersama. Hari ini 28 Agustus 2012. Mereka sudah jarang bermain badminton. Arif mulai sibuk dengan skripsinya. Sebulan lagi ia akan menjadi seorang SE.

Happy 3rd Anniversary too sayang..
Still love you. :*

Baru bangun ya? Dasar malas.
9.30 q jmpt di t4 biasa ya.

Oke sayang.
Meidy dan Arif selalu merayakan hari jadi mereka di pantai. Meidy sangat menyukai pantai dan Arif sangat menykai Meidy, oleh sebab itu tak masalah bagi Arif untuk menunggu Meidy berjam – jam di pantai.
“Sayang,  bosen ya?” tanya Arif melihat Meidy hanya duduk diam, tidak seperti tahun – tahun lalu ia akan bermian di tepi.
“Ga, aq lagi mikir aja”
“Mikir apa?”
“Apa yang akan terjadi kalo kamu udah kerja? Kamu pasti sibuk kerja, ga bisa main lagi sama aku. Kalau aku sudah selesai kuliah, lalu pulang ke daerah asalku, bagaimana kita bisa bertemu lagi?”
Arif memeluknya dari belakang.
“kenapa mikirin itu? jalani dulu apa yang ada sekarang”
“ahhh,, cowok emang gitu.”
“Oya, aku punya berita bagus”
“Apa?”
“Aku sidang 5 hari lagi. Hari kamis, jam 2 siang”
“Aku orang keberapa yang tahu?”
Belum sempat Arif menjawab pertanyaannya, mereka mendengar suara teriakan seseorang. Seorang wanita.
“Arif...Arif...” Suara wanita itu semakin mendekat.
Arif melepaskan pelukannya dan berdiri..
“Heiii..” Arif menjawab sambil melambaikan tangan.
“Siapa?” tanya Meidy enggan untuk bediri.
“Vivi” Jawab Arif singkat
Vivi adalah teman Arif. Mereka sudah lama berteman. Vivi juga masuk club badminton yang sama dengan Arif.
“Ngapain? Bukannya belajar sana.” Kata Vivi yang kini sudah berdiri disamping mereka.
“Hari ini spesial Vi, ga boleh diganggu sama apapun dan siapapun” Jawab Arif sambil melirik ke arah Meidy.
“Ohhh,,, Hei, Meidy apa kabar? Tanya Vivi, yang seolah – oleh kaget melihat Meidy disitu.
“Baik kak. Kakak ngapain?” Jawab Meidy yang kini sudah berdiri.
“Lho, Arif ga cerita ya? Rumah ku didekat sini. Tadi aku ngeliat motor Arif di dekat parkiran umum, jadinya aku engaja nyari. Hehehe”
Vivi memang tinggal di perumahan di pantai ini.
“Arif, sidang hari kamis kan? Udah tau siapa pengujinya?”
Belum sempat Arif menjawab, Meidy meminta diri untuk pergi ke toilet.
Selama perjalanan ke toilet ia dirundung marah. Mengapa dirinya seakan – akan menajdi orang yang tau kalau Arif akan sidang? Kenapa Vivi sudah tahu sementara dirinya belum tahu? Ketika ia kembali, ia mendapati Arif dan Vivi sedang tertawa bersama. Dalam hatinya ia hanya berpikir bahwa Arif juga bisa tertawa bahagia tanpa ada dia.
Ketika Meidy kembali bergabung dengan mereka, Vivi berpamitan untuk pulang dan ia mengundang Arif dan Meidy untuk mampir.
“Ehh,, ga kak. Lain kali aja ya. Aku ada kelas jam 2.”
“Ooo,, ia ni Vi, Meidy ada jelas jam 2” kata Arif sambil melihat arlojinya yang sudah menunjukan waktu pukul 1.
“oo..okedeh... lain kali main ya... daaa” kata Vivi lembut sambil melambai dan berlalu dari mereka.
“Sayang, yukk..” kata Arif lembut sambil menggenggam tangan pacarnya itu.
Setelah Arif diwisuda, Arif bekerja di kota lain, tidak begitu jauh hanya di tempuh dalam 2 jam perjalanan, tetapi hal itu tidak memungkinkan Arif untuk selalu menemui Meidy. Pada saat Meidy diwisuda, Arif juga tidak sempat datang. Apa yang menjadi ketakutan Meidy menjadi kenyataan. Mereka sudah mulai sibuk dengan kesibukan mereka masing – masing. Mereka mulai memiliki jarak yang jauh. Sangat jauh.
***

“kamu yakin mau main kesana? Lagi mendung lho...”
“Ia Ren,, tenang aja. Aku naik bus aja.”
“Dari dulu hobby banget naik bus”
“Biar...”
Hari ini, Meidy berniat main ke kota lumpia itu, semenjak ia  menyelesaikan kuliah S1 di kota itu, ia pindah ke kota dingin ini untuk melanjutkan studinya. Rena adalah teman sekos Meidy yang paling perhatian sama Meidy.
“Aku berangkat ya...”
“Ia, hati – hati.. kalo ada apa – apa hubungi aku.”
“Okee...” Jawab Meidy sembari menuruni tangga.
Ia kini sudah berada dalam bus yang membawanya ke kota lumpia itu. Ia teringat pada Arif, semenjak itu belum ada kata putus diantara mereka, tetapi hubungan itu selesai begitu saja. Sudah 5 tahun Meidy berada di pulau ini, dan sudah 5 tahun hanya Arif yang mengisi hatinya. Ia masih menyimpan nomor Arif di kontaknya dengan mana My Sweet, sampai detik ini. Ia memutuskan menghubungin Arif.
“Halo..” Suara di seberang menjawab
“Hei,, ini aku” belum sempat Meidy melanjutkan, Arif sudah memotong.
“Ada apa Meidy?”
“kamu dimana?”
“Di rumah ni. Kamu?”
“Di jalan kesana.”
“Udah nyampe mana? Mau aku jemput?” Arif menawarkan.
Tanpa sadar Meidy mengangguk – angguk cepat dan tersenyum ia sangat bahagiaia lupa bahwa Arif tak bisa melihat apa yang dia lakukan.
“hallo.. Meidy? Kamu disitu?”
“ehhh,, ia,,ia..jemput aku di halte biasa aja”
“Oke. Kalo udah dekat kabari ya”
“Oke. Bye..” Meidy mematikan telpon dan tersenyum. Ia sangat bahagia. Setidaknya Arif masih menyimpan nomornya. Harusnya ia sudah menguhubungi Arif sedari dulu. Seharusnya ia tidanyak menjaga gengsinya.
Ketika ia sudah mendekati halte, Meidy menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Arif sudah menunggunya.
Arif menyalaminya, edangkan Meidy ingin sekali memeluknya.
“Yukk,, kerumah dulu” Arif langsung memeberikan helm dan melepaskan jaketnya pada Meidy.
Meidy menerima helm itu dengan senang dan memakai jaket yang diberikan Arif. Ia sangat bahagia. Wangi Parfumnya masih sama. Tak berubah sama sekali. Epanjang jalan mereka tak banyak bicara, Meidy melihat ukiran 28:08 masih ada di helm yang dikenakan Arif. 28 Agustus masih spesial bagi Arif. Meidy merasa bahwa penantiannya selama ini tidak sia – sia. Masih ada cinta itu.
Belum jauh perjalanan mereka, hujan mengguyur kota itu secara tiba – tiba.
“Hahahahaha” Meidy tertawa
“kenapa tertawa?”  Arif bingung. Tapi memorinya kembali pada beberapa tahun lalu ketika Meidy tertawa dipunggungnya dalam perjalanan ke Bakso pak Kumis. Sepintas Arif ingin mengajak wanita itu ke warung pak Kumis, tapi ia mengurungkan niatnya.
“Aku selalu bahagia ketika hujan turun”
Sekali lagi ingatan masa lalu kembali menari di otak Arif. Kalimat yang Arif katakan ketika 28 Agustus 2009 di halte bus. Air mata mengalir dari matanya. Arif tak bisa menahannya.
“kamu masih bahagia kalau hujan turun? Tau ga Rif, selalu ada hal bahagia bagi kita ketika hujan turun” Meidy melanjutkan kalimatnya tanap menyadari apa yang sedang dirasakan oleh Arif.
Mereka sampai di rumah Arif, warna catnya sudah di ganti. Meidy masuk dan melihat kesekelilingnya Posisi ruang tamu juga sudah berubah dan ada hal lain yang membuatnya kaget. Ada foto pernikahan disana.
Siapa itu? ketika ingin mendekat, tante Wati, mamanya Arif memanggilnya.
“Ehhh,, ada Meidy.. kamu ganti baju dulu. Nanti masuk angin”
“Oo,, halo tante” Meidy meraih tangan tante Wati dan tante Wati mengiringnya ke belakang.
Setelah selesai mengganti bajunya, mereka ke ruang makan.
“Yukk, makan dulu” ajak Arif.
“Ia,, yuk makan. Tante masak semur telur. Kamu sukakan?” tante Wati menambahkan dengan keramahannya yang tak berubah. Hanya kerutan – kerutan di wajahnya yang semakin bertambah.
Meidy mengikuti saja dari belakang. Ketika sedang makan, ada pemandangan yang tak biasa yang dilihat oleh Meidy, Vivi keluar dari salah satu kamar.
“Ehh,, ada Meidy. Apa kabar?” Vivi langsung menghampiri Meidy. Memeluknya dan mencium pipinya.
“Baik kak..” Meidy memeluknya tetapi otaknya masih berpikir keras. Vivi bergabung di meja makan.
Meidy baru menyadari ada yang berubah dengan jari manis Arif dan Vivi. Mereka memakai cincin yang sama. Tanpa disadari air matanya menetes, jatuh ke pirinngnya. Huajn di luar tetap deras dan bahkan semakin deras.
‘Mengapa aku menangis dikala hujan? Bukankan hujan membuatku bahagia?’ Meidy berusaha menahan tangisnya. Ia mengusap air matanya cepat – cepat. Kemudian ia berdiri.
“Meidy, kenapa sayang?” tanya tante Wati.
“Ga tante. Emmm.. aku mau pulang saja.” Jawab Meidy tak beraturan.
“Ini masih hujan sayang. Kamu juga baru sampai. Pasti banyak hal yang harus diceritakan.” Tante Wati berbicara dengan sangat lembut.
“Aku antar kamu pulang.” Arif berdiri dan menarik tangan Meidy.
“Ma, Arif ngantar Meidy dulu” Pamitnya kepada mamanya.
 Meidy memeluk tante Wati , melambai kepada Vivi dan kemudian keluar. Arif menyusulnya dari belakang.
Kali ini ia mengambil kunci mobil, mengeluarkannya dari garasi dan Meidy sekarang sudah ada disampingnya. Mencoba menahan air matanya.
“Sejak kapan kamu menikah?” suaranya terlalu pelan sehingga tak dapat menyaingi suara hujan yang ada di luar. Arif terdiam, entah karena tak mendengar atau tak mampu menjawab.
Arif menatap lurus, tanpa menoleh kepada Meidy. Ia mangantar Meidy pulang, kembali ke kota dingin itu.

Meidy tak akan membenci hujan. Ia beruntung karena hujan selalu membantunya menemukan kenyataan. Baginya hujan pada tahun ini dan 5 tahun yang lalu akan memiliki kisah yang indah.