Selasa, 19 Agustus 2014

Marco dan Hujan




Buku itu ku simpan kembali ditempatnya. Ku letakkan diantara kamus – kamus, berharap kamus – kamus besar itu dapat menutupi buku kecil yang tersimpan banyak kenangan indah bersama Marco. Marco memang mampu menciptakan banyak kisah indah yang kini kisah itu menjadi kenangan diantara kamus – kamus besar.
Aku Meidy, seorang pencinta hujan. Ketika hujan datang hati yang sedang gersang mendadak basah dan segar dengan hujan yang ada di luar sana seperti kedatangan seorang mahasiswa transfer bernama Marco 3 tahun lalu di kelas sastra. Dia seperti pria pada umunya, tinggi, beramput cepak, tapi ia kelihatan lebih putih di bandingkan laki – laki pada umumnya. Marco berjalan pada kursi kosong di samping jendela yang akan menyajikan pemandangan berupa lapangan sepak bola. ‘Pilihan yang baik’ kataku dalam hati. Aku berada di seberang ruangan, persis di sebelah tembok. Aku bukan seorang mahasiswa teladan yang akan mendengarkan penjelasan dosen, karena aku juga seorang penyiar malam, maka tembok adalah bantal yang baik untuk menggantikan tidurku. Aku dan Marco hanya bertemu di kelas sastra dan duduk di samping jendela adalah kebiasaannya. Ketika hujan turun aku memiliki dua pemadangan yang indah. Sangat indah. Marco dan hujan.
Tanpa disadari oleh Meidy, bukan hanya ia yang memiliki pemandangan indah dalam ruangan 5x8 m itu, ia juga menjadi pemandangann indah bagi seseorang yang duduk di samping jendela itu.
“ Mei... !!” Teriak Amel seorang teman ku.
Refleks aku tersentak dan kepalaku membetur jendela yang ada sejak kampus itu berdiri.
“Owww... Kenapa?” Aku bertanya sambil mengosok – gosok kepalaku.
“Tuuu....” Kata Amel sembari menunjuk ke arah Marco yang sudah berada di pintu.
Hari ini aku dan Amel sudah berencana untuk mengikuti Marco dan mencari tahu dimana tempat tinggalnya.
“Yookk,, cepet..cepet....!” Aku langsung bergegas, memasukkan buku ku secara acak kedalam tas.
Amel menarikku, kami berdua berlari disepanjang lorong berharap menemukan punggung Marco. Sudah beberapa kali kami mencoba mengikutinya dan selalu aku yang paling bersemangat namun kali ini, Amel menjadi yang paling bersemangat. Kami berlari melintasi lapangan sepak bola agar bisa sampai di gerbang depan lebih cepat.
“Kita tunggu disini aja Mei, mungkin aja di marco belom keluar dari gerbang” kata Amel yang secara otomatis seperti rem yang menghentikan laju kakiku.
“Ia,,ia,,, aku juga haus. Kamu mau es bang Kumis? Aku traktir deh..” kata ku menunjukkan mata berbinar – binar melihat warung es bang kumis di seberang sana.
“Boleh” sahut Amel singkat, tapi matanya masih celingak – celinguk mencari keberadaan Marco.
Aku berlari ke sebrang jalan, mengambil 2 es krim ala bang Kumis yang satu rasa coklat untuk Amel, yang vanila untuk aku. Aku merogoh – rogoh tas ku, berharap menemukan dompetku, tapi tak ada ditempatnya. ‘waduh.. dimana aku menjatuhkannya’ batinku sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan dompet itu. Aku mengembalikan es krim yang ada di tangan ku dan berlari menghampiri Amel.
“Mel, gimana? Marco udah lewat?” tanyaku “Belom Mei, mana esnya?”
“Nahhh.. itu dia, dompet ku hilang. Kamu balik duluan aja, aku mau cari dulu di tempat – tempat yang udah kita lewati”
“Ngak mau di temenin?” Amel menawarkan diri.
“Gak usah... daaaa...” jawab ku tak ingin merepotkan.
            Udara seakan – akan bersahabat. Mentari yang tadi terik, kini telah bersembunyi di balik awan. Aku pun teringat apakah dompet ku jatuh di lapangan ya? Aku segera berlari cepat menyusuri lapangan, ketika sedang serius mencari.... beerrrrr.... hujan turun dengan derasnya. Banyak anak – anak yang sudah berlarian kesana kemari mencari tempat berteduh, ‘ahhh,, dompet ku lebih penting sekarang’ akhirnya aku memutuskan tetap berada di tengah lapangan dikala hujan turun dengan derasnya. Sementara itu dalam sebuah ruangan kelas, ada sebuah tangan kurus yang menemukan sebuah dompet Milk Teddy berwarna coklat dan ia duduk di kursi dekat dompet itu, sambil memandang ke lapangan sepak bola, didapatinya seorang gadis yang tengah  asik bersama hujan. Sosok itu tersenyum sambil memandang dompet yang ada di tanganya.
            Meidy sampai di kosnya dengan basah kuyup dan tentunya dengan berjalan kaki, tidak ada yang mau memberinya tumpangan secara gratis, karena ia tidak punya uang sepeserpun. Malam  Meidy juga gak berangkat siaran. Setelah menelpon bosnya ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ternyata Marco.
“Meidy, ini.” Marco sudah berdiri didepannya sambil memberikan dompetnya.
“Kok bisa?” tanya Meidy heran.
“Ia, tadi setelah kelas sastra aku lanjut kelas statistika di ruangan itu, dan kursi yang biasa kamu tempati adalah kursi yang biasa aku tempati di kelas – kelas lainnya. Eemmm...sebenarnya, aku suka kamu”
Meidy membelalak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Marco. “Apa? kalimat yang terakhir kamu bilang apa?” Meidy meminta Marco mengulangi takut ia salah dengar.
“Aku suka sama kamu, Meidy Ayundia.” Jawab Marco singkat sambil menatap Meidy dalam – dalam.
‘Aku juga’ jawab Meidy dalam hati. Pipinya kini merona merah. Entah apa yang harus dilakukannya. Ia harus tersenyum atau berteriak sekencang – kencangnya. Ia memilih diam.
Aku sudah berjanji akan bertemu dengan Marco di kampus setelah ia selesai kuliah. Aku menunggu didepan pintu kelasnya.
“Mei, udah dari tadi?” tanya Marco lembut. Meydi hanya menjawab dengan senyum.
“Yuk..” Marco menggenggam tangan Meidy.
“Disini saja. Kita bicarain bertiga” Jawab Meidy sambil menahan dirinya enggan mengikuti Marco. Wajah Marco terlihat bingung mendengar kalimat ‘bertiga’
“Sama siapa?” tanya Marco sambil meneliti siapa lagi orang yang akan bergabung dengan mereka.
“Amel” jawab Meidy singkat sambil menatap sosok yang baru saja datang dari punggung Marco. Marco berbalik dan semakin bingung melihat Amel yang sudah ada dibelakangnya.
“Maaf, aku baru tahu kalau Amel juga suka sama kamu, aku ga bisa sama – sama kamu, sementara temanku juga merasakan hal yang sama” Meidy memberanikan diri utuk berbicara sambil mentap mata Marco.
“Mei, tapi...” belum sempat Marco menyelesaikan kalimatnya
“Aku juga suka sama kamu” Pengakuan Amel semakin membuat Marco menjadi bingung.
“Mungkin bukan kamu yang terbaik untuk aku. Mungkin bukan kamu cara ku untuk mendapatkan kebahagiaan. Lebih baik kalau kita berteman. Kita akan bahagia dengan cara yang seperti itu” itulah kalimat terakhir dari Meidy sebelum ia meninggalkan koridor yang kini terasa menjadi kenangan buruk baginya. Hari – hari kemarin, koridor itu penuh dengan kegembiran, canda dan tawa, ia berlari bersama Amel mencari Marco, bersama Marco menyelesaikan tugas – tugas sastra.
Aku bahagia, ketika keputusan itu di buat bertepatan dengan hujan yang deras membasahi kota itu, setidaknya ia tak tahu bahwa ada hati yang tersakiti, ada air mata yang membasahi pipi. Aku berjalan pulang di bawah hujan, sekalipun ku menangis tak ada yang akan melihatnya.
Pilihan yang pahit akan menghancurkan  hatimu, tetapi alam akan membantumu tersenyum . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar