Buku itu ku simpan kembali ditempatnya.
Ku letakkan diantara kamus – kamus, berharap kamus – kamus besar itu dapat
menutupi buku kecil yang tersimpan banyak kenangan indah bersama Marco. Marco
memang mampu menciptakan banyak kisah indah yang kini kisah itu menjadi
kenangan diantara kamus – kamus besar.
Aku Meidy, seorang pencinta hujan.
Ketika hujan datang hati yang sedang gersang mendadak basah dan segar dengan
hujan yang ada di luar sana seperti kedatangan seorang mahasiswa transfer
bernama Marco 3 tahun lalu di kelas sastra. Dia seperti pria pada umunya,
tinggi, beramput cepak, tapi ia kelihatan lebih putih di bandingkan laki – laki
pada umumnya. Marco berjalan pada kursi kosong di samping jendela yang akan
menyajikan pemandangan berupa lapangan sepak bola. ‘Pilihan yang baik’ kataku
dalam hati. Aku berada di seberang ruangan, persis di sebelah tembok. Aku bukan
seorang mahasiswa teladan yang akan mendengarkan penjelasan dosen, karena aku
juga seorang penyiar malam, maka tembok adalah bantal yang baik untuk
menggantikan tidurku. Aku dan Marco hanya bertemu di kelas sastra dan duduk di
samping jendela adalah kebiasaannya. Ketika hujan turun aku memiliki dua
pemadangan yang indah. Sangat indah. Marco dan hujan.
Tanpa disadari oleh Meidy, bukan hanya
ia yang memiliki pemandangan indah dalam ruangan 5x8 m itu, ia juga menjadi
pemandangann indah bagi seseorang yang duduk di samping jendela itu.
“ Mei... !!” Teriak Amel seorang teman
ku.
Refleks aku tersentak dan kepalaku
membetur jendela yang ada sejak kampus itu berdiri.
“Owww... Kenapa?” Aku bertanya sambil
mengosok – gosok kepalaku.
“Tuuu....” Kata Amel sembari menunjuk ke
arah Marco yang sudah berada di pintu.
Hari ini aku dan Amel sudah berencana
untuk mengikuti Marco dan mencari tahu dimana tempat tinggalnya.
“Yookk,, cepet..cepet....!” Aku langsung
bergegas, memasukkan buku ku secara acak kedalam tas.
Amel menarikku, kami berdua berlari
disepanjang lorong berharap menemukan punggung Marco. Sudah beberapa kali kami
mencoba mengikutinya dan selalu aku yang paling bersemangat namun kali ini,
Amel menjadi yang paling bersemangat. Kami berlari melintasi lapangan sepak
bola agar bisa sampai di gerbang depan lebih cepat.
“Kita tunggu disini aja Mei, mungkin aja
di marco belom keluar dari gerbang” kata Amel yang secara otomatis seperti rem
yang menghentikan laju kakiku.
“Ia,,ia,,, aku juga haus. Kamu mau es
bang Kumis? Aku traktir deh..” kata ku menunjukkan mata berbinar – binar
melihat warung es bang kumis di seberang sana.
“Boleh” sahut Amel singkat, tapi matanya
masih celingak – celinguk mencari keberadaan Marco.
Aku berlari ke sebrang jalan, mengambil
2 es krim ala bang Kumis yang satu rasa coklat untuk Amel, yang vanila untuk
aku. Aku merogoh – rogoh tas ku, berharap menemukan dompetku, tapi tak ada
ditempatnya. ‘waduh.. dimana aku menjatuhkannya’ batinku sambil mencoba
mengingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan dompet itu. Aku mengembalikan es
krim yang ada di tangan ku dan berlari menghampiri Amel.
“Mel, gimana? Marco udah lewat?” tanyaku
“Belom Mei, mana esnya?”
“Nahhh.. itu dia, dompet ku hilang. Kamu
balik duluan aja, aku mau cari dulu di tempat – tempat yang udah kita lewati”
“Ngak mau di temenin?” Amel menawarkan
diri.
“Gak usah... daaaa...” jawab ku tak
ingin merepotkan.
Udara
seakan – akan bersahabat. Mentari yang tadi terik, kini telah bersembunyi di
balik awan. Aku pun teringat apakah dompet ku jatuh di lapangan ya? Aku segera
berlari cepat menyusuri lapangan, ketika sedang serius mencari.... beerrrrr....
hujan turun dengan derasnya. Banyak anak – anak yang sudah berlarian kesana
kemari mencari tempat berteduh, ‘ahhh,, dompet ku lebih penting sekarang’
akhirnya aku memutuskan tetap berada di tengah lapangan dikala hujan turun dengan
derasnya. Sementara itu dalam sebuah ruangan kelas, ada sebuah tangan kurus
yang menemukan sebuah dompet Milk Teddy berwarna coklat dan ia duduk di kursi
dekat dompet itu, sambil memandang ke lapangan sepak bola, didapatinya seorang
gadis yang tengah asik bersama hujan.
Sosok itu tersenyum sambil memandang dompet yang ada di tanganya.
Meidy
sampai di kosnya dengan basah kuyup dan tentunya dengan berjalan kaki, tidak
ada yang mau memberinya tumpangan secara gratis, karena ia tidak punya uang
sepeserpun. Malam Meidy juga gak
berangkat siaran. Setelah menelpon bosnya ada seseorang mengetuk pintu
kamarnya. Ternyata Marco.
“Meidy, ini.” Marco sudah berdiri
didepannya sambil memberikan dompetnya.
“Kok bisa?” tanya Meidy heran.
“Ia, tadi setelah kelas sastra aku lanjut
kelas statistika di ruangan itu, dan kursi yang biasa kamu tempati adalah kursi
yang biasa aku tempati di kelas – kelas lainnya. Eemmm...sebenarnya, aku suka
kamu”
Meidy membelalak mendengar kalimat
terakhir yang diucapkan oleh Marco. “Apa? kalimat yang terakhir kamu bilang
apa?” Meidy meminta Marco mengulangi takut ia salah dengar.
“Aku suka sama kamu, Meidy Ayundia.”
Jawab Marco singkat sambil menatap Meidy dalam – dalam.
‘Aku juga’ jawab Meidy dalam hati.
Pipinya kini merona merah. Entah apa yang harus dilakukannya. Ia harus
tersenyum atau berteriak sekencang – kencangnya. Ia memilih diam.
Aku sudah berjanji akan
bertemu dengan Marco di kampus setelah ia selesai kuliah. Aku menunggu didepan
pintu kelasnya.
“Mei, udah dari tadi?” tanya Marco
lembut. Meydi hanya menjawab dengan senyum.
“Yuk..” Marco menggenggam tangan Meidy.
“Disini saja. Kita bicarain bertiga”
Jawab Meidy sambil menahan dirinya enggan mengikuti Marco. Wajah Marco terlihat
bingung mendengar kalimat ‘bertiga’
“Sama siapa?” tanya Marco sambil
meneliti siapa lagi orang yang akan bergabung dengan mereka.
“Amel” jawab Meidy singkat sambil
menatap sosok yang baru saja datang dari punggung Marco. Marco berbalik dan
semakin bingung melihat Amel yang sudah ada dibelakangnya.
“Maaf, aku baru tahu kalau Amel juga suka
sama kamu, aku ga bisa sama – sama kamu, sementara temanku juga merasakan hal
yang sama” Meidy memberanikan diri utuk berbicara sambil mentap mata Marco.
“Mei, tapi...” belum sempat Marco
menyelesaikan kalimatnya
“Aku juga suka sama kamu” Pengakuan Amel
semakin membuat Marco menjadi bingung.
“Mungkin bukan kamu yang terbaik untuk
aku. Mungkin bukan kamu cara ku untuk mendapatkan kebahagiaan. Lebih baik kalau
kita berteman. Kita akan bahagia dengan cara yang seperti itu” itulah kalimat
terakhir dari Meidy sebelum ia meninggalkan koridor yang kini terasa menjadi
kenangan buruk baginya. Hari – hari kemarin, koridor itu penuh dengan
kegembiran, canda dan tawa, ia berlari bersama Amel mencari Marco, bersama
Marco menyelesaikan tugas – tugas sastra.
Aku bahagia, ketika
keputusan itu di buat bertepatan dengan hujan yang deras membasahi kota itu,
setidaknya ia tak tahu bahwa ada hati yang tersakiti, ada air mata yang
membasahi pipi. Aku berjalan pulang di bawah hujan, sekalipun ku menangis tak
ada yang akan melihatnya.
Pilihan yang pahit akan
menghancurkan hatimu, tetapi alam akan
membantumu tersenyum . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar