Hujan
rintik-rintik sore ini membuat Meydi tetap di kasurnya, malas untuk beranjak ataupun
keluar untuk mandi. Speakernya hanya
memutar ulang lagu yang sama dari tadi...
Sumpah tak ada lagi kesempatan ku untuk bisa bersamammu
Kini ku tau bagaimana caraku untuk dapat t’rus denganmu
Bawalah pergi cintaku ajak kemana kau mau
Jadikan temanmu, teman paling kau cinta
Disini kupun begitu t’rus cintaimu dihidupku
Didalam hatiku sampai waktu yang pertemukan kita nanti
Meydi
sadar bahwa kesalahan yang sama kembali dia ulangi lagi, bukan sekali dua kali
tetapi sudah jadi kebiasaannya. Mencintai sahabatnya sendiri. Entah kapan ia
akan berubah, sampai kapan ia akan dengan mudahnya mencintai...
Hanya
bisa menatap langit-langit kamar yang bergantungan angsa origaminya, Meydi
tersadar bahwa dari semua yang terjadi saat ini, hanya ada 2 hal yang dia
rasakan ketika ada cinta yang tumbuh dari persahabatan yaitu cinta yang membawa
perasaan cemburu dan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ketika dua hal ini
terjadi ia kemudian bertekad untuk tidak lagi mengulang hal yang sama,
sekalipun sudah pindah kota berkali-kali, tetap saja ia menemukan kisah yang
sama di tiap kota yang dia tinggali.
Apakah ini
salah satu cara untuk mencintai? Sekalipun rasa sakit yang sebelumnya belum
hilang, Meydi terlalu berani untuk memulai rasa sakit yang baru lagi...
Mungkin Meydi terlalu bodoh, rasa
cintanya pada hujan membuatnya ingin seperti hujan, mungkin seperti hujan sore
itu... Romantis...
Dia selalu mau kembali, meski tahu rasanya jatuh
berkali-kali...