Jumat
Legi, Oktober 2016
Keberuntungan
adalah sesuatu yang diberikan oleh “alam semesta”, sedangkan Berkat adalah
sesuatu yang diberikan oleh “Pencipta alam semesta”.
Ini
adalah sebuah kisah yang terdapat dalam injil sinoptik dan kisah tuturan dari
seorang murid yang dikasihi Yesus. Di sana mereka menuliskan...
Pada
pagi itu, ohhh.. lebih tepatnya hari itu masih subuh. Mereka yang membenci
Yesus telah membawaNya ke sana kemari, mulai dari Pengadilan, pergi kepada
Herodes dan kini mereka kembali lagi kepada pengadilan, di sana mereka bertemu
dengan Wali Negeri. Mereka menyebut wali negeri itu Pontius Pilatus. Ia dikenal
dengan nama Pilatus, namanya ini ingin menunjukkan bahwa leluhurnya adalah
militer. Sebagai seorang wali negeri, ia memiliki kuasa penuh atas hidup mati
seseorang.
Saat
itu wajahnya sudah terlihat lelah.. Pilatus bukan lelah dengan persoalan ini,
ia lelah terhadap apa sebenarnya yang diingini oleh orang Yahudi? Pilatus tidak
menemukan apa kesalahan yang dilakukan oleh Yesus.
Pilatus
adalah seorang yang lemah dan ragu-ragu, tapi hari itu ia maju dengan tegas ke depan
orang banyak dan berkata “Kamu membawa orang ini kepadaku. Aku telah
memeriksanya dan tidak menemukan kesalahan apapun atasNya. Herodes pun, tidak
menemukan kesalahan apapun padaNya sehingga Ia pantas dijatuhi hukuman mati”. Imam-imam
kepada telah mengatur semuanya dengan baik, anasir jahat dari tempat-tempat di
Yerusalem dikumpulkan, mereka mulai berteriak untuk menakut-nakuti Pilatus.
Ahaaa..
Pilatus teringat... Ada satu kebiasaan yang dilakukan ketika hari raya paskah,
yakni membebaskan seorang penjahat. Pada saat itu Pilatus mengajukan penawaran
bagi orang banyak, untuk memilih membebaskan Yesus atau Barabas! Saat inilah
yang menjadi saat di mana alam semesta memberikan keberuntungan bagi Barabas.
Siapa
Barabas?
Injil
sinoptik dan seorang murid yang dikasihi Yesus menggambarkan Barabas sebagai
seseorang dengan deskripsi negatif. Ia disebut-sebut sebagai seorang yang terkenal
karena kejahatannya, ia seorang yang terlibat dalam pemberontakan politik
disertai pembunuhan (mungkin dia ikut-ikutan dalam pemberontakan yang terjadi
pada upacara Pondok Daun), ada juga yang mengatakan ia seorang penyamun.
Catatan kriminal terbaru yang dilakukannya sehingga ia ditahan dan dijebloskan ke dalam penjara adalah ketika
ia beraksi melakukan pemberontakan dalam kota.
Setelah
melontarkan pilihan kepada orang banyak, waktu dan kesempatan menyumbangkan
suara mereka untuk keberuntungan Barabas. Pilatus mendapat sebuah surat dari
istrinya “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia
aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam”. Ternyata pada malam sebelumnya,
ketika Pilatus menuruh sepasukan prajurit membantu imam-imam kepala untuk menangkap
Yesus, rupanya Pilatus telah membicarakan soal ini dengan istrinya. Sementara
Pilatus membaca surat tersebut, imam-imam kepala telah berhasil menghasut orang
banyak “Mintalah supaya Barabas yang dibebaskan, jangan Yesus”. Diantara mereka
juga ada ‘anggota-anggota gerakan kemerdekaan’ yang dahulu mengharapkan banyak
dari Yesus. Alam semesta membawa mereka kemari dengan tujuan untuk mendukung
keberuntungan Barabas. Lihatlah mereka mudah dihasut oleh imam-imam kepala “Tidak
ada harapan kita dapat bahagia dari Yesus ini. Bukankah terang-terangan ia
telah menganjurkan untuk membayar pajak kepada Kaisar Roma? Bukankah Dia
menyerah saja kepada tentara Romawi? Sedikitpun ia tidak berkuasa untuk
melepaskan diri dari orang-orang yang menangkap Dia. Mesias apa itu? Orang yang
demikiankah yang akan melepaskan diri dari bangsa asing? Barabas dengan berani
menghunus pedang didepan musuhnya. Kalau dibandingkan dengan dia, Yesus adalah
seorang pengecut yang tidak berani bertindak.”
Pilatus
berteriak sekali lagi dengan tawarannya “siapakah yang kamu pilih?” jawaban yang terdengar “Barabas”, “Apakah
yang harus kuperbuat kepada Yesus?”, jawab mereka lagi “SALIBKAN DIA..”,
“Tetapi apa kesalahannya?”, mereka hanya mengulangi “SALIBKAN DIA”.
Pilatus
mengajukan pilihan antara Barabas dan Yesus, sangkanya orang banyak akan
memilih Yesus, seseorang yang derajatnya jauh lebih tinggi dari Barabas. Namun
pemikirannya meleset. Keberuntungan ada pada Barabas. Alam semesta
mendukungnya.
Bagaimana
mungkin seorang dengan catatan kriminal sebanyak ini bisa menjadi pilihan orang
Yahudi untuk dibebaskan? Inilah yang disebutkan sebagai keberuntungan seorang
Barabas. Alam semesta mendukungnya.
Yesus
telah bertahun-tahun berbuat baik kepada bangsa itu, siang dan malam, musim
demi musim, penyakit demi penyakit. Tetapi sekarang mereka membuangNya seperti
barang yang tidak berharga. Rupanya mereka hanya mengikut Dia saja, tanpa
mengasihiNya. Itulah kerasnya alam semesta.
Kini
kita tahu, keberuntungan itu buta. Ia tidak melihat bahwa sosok yang dipilihnya
memiliki watak yang baik atau buruk. Mungkinkah
sekarang kita berpikir bahwa berkat itu juga buta? Karena berkat datang kepada
siapa saja. Sama seperti hujan dan matahari yang Allah berikan pada si baik dan
si jahat. Tetapi perlu untuk diingat bahwa berkat dari Allah tidak membuat
orang lain merasa dirugikan, berkat dari Allah tidak membuat orang lain merasa
tidak dihargai, berkat dari Allah tidak membuat orang lain merasakan
ketidakadilan. Mungkin berkat dan keberuntungan sama-sama buta tetapi berkat memiliki
hati.
Hari
itu... Alam semesta benar-benar mendukung Barabas, tidak berhenti pada
keberuntungan. Allah, Sang Pencipta alam semesta juga turut memberikan suaraNya
bagi Barabas, jika tidak... Bagaimanakah kamu dan saya menjadi orang yang
diberkati dengan berkat keselamatan dari Allah melalui Putra Tunggal-Nya..??
Jika
Barabas masih ada saat ini, saya ingin sekali pergi mengunjunginya dan mengatakan
“Selamat Yesus Barabas, anak laki-laki dari Aba, kamu mendapatkan double jackpot.. Allah juga memberikan
berkat keselamatan padamu setelah kamu ditukar dengan Putra Tunggal-Nya”. [s]
Hanya
sebuah refleksi sederhana mengenai berkat
& keberuntungan...
Terimakasih untuk “kamu” yang
selalu mengusik saya dengan pertanyaanmu...
Merindumu...