Hari ini kota dingin di lereng Gunung
Merbabu sedang diguyur hujan. 6 April 2014 sekitar pukul 15.36 saya duduk
disebuah kursi panjang di depan fakultas sambil mencoba menceritakan sebuah
kisah tentang hujan.
Meidy bertemu
dengannya pada saat hujan mengguyur kota yang terkenal dengan lumpianya. Ia
menunggu bis menuju ke sebuah tempat, tempat yang paling disukainya, sebuah
lapangan badminton. Halte bus itu sangat dekat dengan lampu merah ‘bangjo’ (abang ijo) begitulah orang – orang
dikota ini menyebut salah satu tanda lalu lintas itu. Hujan membuat beberapa
orang pengendara motor yang tidak membawa jas hujan menjadi tidak sabar. Suara
klakson mulai memenuhi telinga ketika lampu merah telah tergantikan oleh nyala
lampu hijau. Meidy masih menunggu bus yang membawanya ke lapangan badminton
datang.
Merasa hampir putus asa, tak lama
kemudian sebuah bus datang, keneknya sudah berteriak sekencang – kencangnya
melawan suara hujan “Pahlawan..pahlawan”
Suara teriakan itu membuat Meidy
tersenyum setelah sekian lama berdiri di halte. Ia mengangkat tangannya lalu
melompat ke bus tersebut. Bus membawanya ke jalan Pahlawan. Ia kemudian
berpikir lagi, bagaimana caranya masuk ke GOR sedangkan ia tak membawa payung. Tak
alma kemudian sampailah dia di halte bus pahlawan, sekali lagi ia menunggu,
kali ini bukan menunggu bus melainkan menunggu kpan hujan ini berhenti dan ia
dapat brlari sekencang – kencangnya ke GOR.
‘hari yang tak beruntung’ keluh Meidy
dalam hati.
Dari kejauhan ada seseorang yang
memperhtikannya, Arif mempercepat laju motornya dan menghampiri Meidy.
“Mbak, mau ke GOR?” tanya pria itu
sambil membuka kaca helmnya.
Yang terlihat oleh Meidy hantalah kumis
yang berbaris rapi, sebuah hidung yang menyerupai paruh burung dan mata yang
sayup.
‘heemm.. emang aku kayak mbak..mbak
ya?’ Meidy mengerutkan kening melihat
laki – laki yang ada didepannya.
“Mbak...Mbak...” kali ini Arif
melambaikan tangannya didepan Meidy.
“Ehhh,, ia,,ia.. ini mau ke GOR,
tapi....”
“Udah, bareng aja.” Belum sempat Meidy
mengatakan alasannya Arif sudah memotong kalimatnya.
Tak ada pilihan lain, Meidy akhirnya
ikut dengan Arif.
“Masuk ke dalam mantel aja, hujannya
lumayan deras ni...” kata Arif sambil mengangkat mantel bagian belakang dengan
tangan kirinya.
“Makasih yaaa....” kata Meidy singkat
sambil bergabung dengan teman – temannya yang sudah menunggu dari tadi.
Seperti itulah Meidy, singkat dan apa
adanya. Meidy menyukai Badminton sejak ia di Sekolah Dasar, ia juga tidak
berasal dari kota ini. Ia ada di kota ini untuk menemukan masa depannya. Ketika
sedang beristirahat Arif menghampiri Meidy..
“Boleh minta air?”
“Ehhh,, ya...” kata Meid sambil
memberikan botol minumnya yang ada di tangannya.
“Aku lupa bawa, tadi buru – buru”
“Ia, ga apa”
“Makasih ya..” Kata Arif setelah
meneguk air dan memberikan botolnya kepada Meidy.
“Rif... ayo....” teriak seorang teman
Arif dari lapangannya.
Arif mengangkat jempolnya yang artinya
‘oke’
“Aku kesana ya... sekali lagi makasih”
pamit Arif.
Meidy Cuma tersenyum sambil mengangguk.
Arif berdiri dan berjalan ke lapangannya. Dari belakang hanya terlihat seperti
seorang pria dengan potongan rambut yang rapi, tinggi kira – kira 170cm dan ia terlihat
kurus dibalik setelah Yonex merah hitam yang dipakainya. Setelah itu Meidy
tidak lagi bermain, ketika teman – temannya mengajak ia memberikan alasan ingin
istirahat. Meidy berbohong. Ia mulai menikmati pemandangan yang ada didepannya.
Ia menyukai cara Arif bermain. Beberapa kali Arif menoleh kearahnya dan
menangkap matanya yang sedari tadi menatap Arif. Arif hanya tersenyum.
“Pulang sama siapa?” Suara Arif tiba –
tiba terdengar dibelakang Meidy saat ia menunggu Bus yang akan mebawanya ke
Halte Bus tempat ia menunggu 4 jam yang lalu.
“Sama banyak orang di bus”
“Hehehehe,, kamu ternyata lucu juga ya”
Arif turun dari motornya dan berdiri disebelah Meidy.
“Apanya yang lucu? Aku Cuma menjawab
pertanyaan mu”
“Yaaa,,, berarti pertanyaan ku salah
ya?”
Meidy Cuma mengangkat bahu.
“Kamu kalo lagi main, muka mu serius
sih.. jadinya ku pikir kamu orangnya yaaa... gitu deh... ehh,, ga taunya lucu
juga”
“Kamu pikir aku badut? Lucu.”
“Ya,, sorry,,sorry... makan bakso yuk”
“Aku ga suka sembarangan bakso” Meidy
emang suka bakso, tapi hanya bakso – bakso tertentu. Ia takut dengan berita – berita
di tv tentang bahan pengawet dalam bakso.
“Ada deh.. Baksonya enak. Langganan ku,
orangnya baik, porsinya oke, harganya pas” pejelasan Arif seperti seorang
sales.
“Aku ga bawa helm” jawab Meidy yang
artinya ia.
“Ooo.. ga apa. Aku tahu jalan yang aman”
Meidy mengikuti Arif dibelakangnya dan
duduk di motor yang tadi membawanya ke GOR. Duduk dibelakang Arif terasa biasa
saja, hanya saja harum parfum yang tadi masih terasa hingga sekarang, baunya
tidak berubah.
Meidy melamun sepanjang jalan dan tanpa
terasa ia seperti mengenali jalan ini.
Ia menepuk bahu Arif berkali – kali.
“Ehh,, aku bukan tukang ojek.”
“Hahaha,, bukan .. bukan... aku tahu
jalan ini, bagaimana kalau ke bakso langganan ku saja.” Tawa pertama Meidy yang
didengar oleh Arif.
“Emm, hari ini ke langganan ku, besok
baru ke langganan kamu”
“Yaa, boleh deh” kata Meidy menyerah.
Bakso Pak Kumis.
“Maksudku juga tempat ini” kata Meidy
girang.
“Hahahaha”
Mereka berdua masuk kedalam dan
disambut hangat oleh Pak Kumis. Pak Kumis memang memiliki Kumis sesuai dengan
namanya.
“Bungkus atau makan disini?” tanya pak
Kumis di balik gerobaknya.
“Makan disini” jawab Arif dan Meidy
bersamaan.
“Lah,, tumben Mas Arif makan disini?
Biasanya bungkus”
“Ia ni pak. Lagi ngajak cewek jadinya
ga enak kalo ditinggal makan sendiri”
“hahahahaha” ketiganya tertawa.
“Mbak Meidy, seperti biasa?”
Meidy menjawab dengan 2 jempol teracung
ke atas. Mereka berdua mencari tempat duduk.
“Aku Arif”
“Udah tau, tadi udah disebut sama pak
Kumis. Aku Me..”
“Udah tau, tadi udah disebut sama pak
Kumis. Meydi.”
Hahahaha.. keduanya tertawa bersama.
Arif mengantar Meidy kembali ke halte bus sesuai dengan permintaan Meidy.
Hari – hari berlalu..
Meidy dan Arif semakin dekat. Pada
awalnya mereka bercerita tentang badminton, bersama – sama pergi ke toko
olahraga, selama 5 bulan mereka berteman, Meidy pindah ke club badminton Arif,
karena teman – teman club sebelumnya sudah memiliki kesibukan – kesibukan lain.
Selama 5 bulan, Meidy dan Arif bertemu
di Halte Bus baik ketika Arif menjemput ataupun ketika Arif mengantar pulang.
Arif tetap setia menunggu Meidy berlari sepanjang jalan sampai ke halte itu dan
Meidy tetap menunggu Arif, duduk dikursi paling pojok. Hingga suatu hari setelah
pulang dari GOR, Arif mengantar Meidy ke halte bus seperti biasanya. Setelah
Meidy turun, Arif masih duduk diatas motornya dan membuka helmnya.
“Meidy, kamu senang main sama aku?”
“Tentu..”
“Enak ga jadi partner ku kalo
badminton?”
“Enak lah,, aku ga perlu capek, kamu
yang paling semangat, aku cukup menunggu bola depan saja”
“hahahahaha.. bilang aja kamu malas”
“Ya udah kalau gitu jangan main lagi
sama aku”
“mulai,,, mulai... hobby mu selain
badminton apa? Marah – marah ya?
Meidy hanya tersenyum.
“Mau ga jadi partner ku selamanya?”
“ia,,, oke bos..”
“beneran? Jadi partner hidupku?”
Meidy membelalak, senyumnya berubah.
“Maksudnya?” Meidy tidak lagi tersenyum
“Kamu mau jadi pacar ku?” tanya Arif
hati – hati setelah melihat wajah Meidy berubah.
Arif terhentak, hampir terjatuh dari
motornya ketika Meidy memeluknya dan mengangguk – angguk di belakang kepalanya,
masih dalam pelukannya.
Arif tersenyum lega, sambil membalas
pelukan Meidy dan tangannya tertahan pada tas raket di punggung Meidy. Ia
memandang ujung tas raket yang hampir masuk ke matanya dengan terus tersenyum.
Senyum yang paling bahagia. Bagaimana tidak, Arif sudah sejak lama
memperhatikan Meidy, ia selalu menjadi satu – satunya wanita dalam clubnya
sebelumnya. Meidy selalu serius ketika bermain dan akan marah dengan berteriak
– teriak apabila ia tidak mampu mengembalikan bola.
28 Agustus 2009 menjadi jawaban bagi
Arif. 2 bulan Meidy bermain di GOR itu dan 5 bulan mereka berteman adalah harga
yang harus ia bayar untuk medapatkan pelukan ini. Senyumnya semakin lebar
mengingat saat pertama ia menghapiri Meidy di halte bus dekat GOR.
Tiba – tiba hujan turun lagi...
Meidy cepat – cepat melepaskan
pelukannya dan Arif berlari mengkutinya dari belakang untuk berteduh di halte
bus itu.
Mereka tertawa bersama, tertawa
bahagia.
“Aku senang bila hujan turun” Arif
menghentikan tawa mereka.
“Kenapa?”
“Aku selalu mendapatkan saat – saat
terindah dikala hujan”
“Oyaa?”
“Hemm, kalau saja waktu itu tidak
hujan, dan kamu tidak menunggu di halte dekat GOR mungkin aku hanya bisa
ngeliat kamu aja, ga bisa ngobrol”
“Emang kita pernah bertemu sebelumnya?”
Meidy bingung.
“Ia” Kata Arif menarik lembut pipi
Meidy dengan kedua tangannya.
“Kapan?” Meidy bertanya dengan suara
aneh karena tangan Arif belum lepas dari pipinya.
“7 bulan yang lalu. Kamu datang pertama
kali di GOR. Aku dah naksir dari 7 bulan lalu.” Kata Arif sambil melepaskan
tangannya dari pipi Meidy.
“Masa iya? Wahh aku mempesona ya?” pipi
Meidy merona merah, entah karena cubitan itu atau karena ia tersipu.
“Ia, karena galak mu itu”
“Hahahahaha” keduanya kembali tertawa
bersama.
Kini yang mereka bicarakan bukan lagi
masalah badminton melainkan kisah – kisah tentang mereka. Arif sering mengajak
Meidy kerumahnya, bermain bersama keponakannya dan Meidy sudah mengenal kedua
orang tua Arif. Mereka menyayangi Meidy seperti anak mereka sendiri.
Sayang,
happy 3rd Anniversary..
Love
you my lovely.
Sms Arif masuk ke HP Meidy. Tak terasa
sudah 3 tahun mereka bersama. Hari ini 28 Agustus 2012. Mereka sudah jarang
bermain badminton. Arif mulai sibuk dengan skripsinya. Sebulan lagi ia akan
menjadi seorang SE.
Happy
3rd Anniversary too sayang..
Still
love you. :*
Baru
bangun ya? Dasar malas.
9.30
q jmpt di t4 biasa ya.
Oke
sayang.
Meidy dan Arif selalu merayakan hari
jadi mereka di pantai. Meidy sangat menyukai pantai dan Arif sangat menykai
Meidy, oleh sebab itu tak masalah bagi Arif untuk menunggu Meidy berjam – jam
di pantai.
“Sayang, bosen ya?” tanya Arif melihat Meidy hanya
duduk diam, tidak seperti tahun – tahun lalu ia akan bermian di tepi.
“Ga, aq lagi mikir aja”
“Mikir apa?”
“Apa yang akan terjadi kalo kamu udah
kerja? Kamu pasti sibuk kerja, ga bisa main lagi sama aku. Kalau aku sudah
selesai kuliah, lalu pulang ke daerah asalku, bagaimana kita bisa bertemu
lagi?”
Arif memeluknya dari belakang.
“kenapa mikirin itu? jalani dulu apa
yang ada sekarang”
“ahhh,, cowok emang gitu.”
“Oya, aku punya berita bagus”
“Apa?”
“Aku sidang 5 hari lagi. Hari kamis,
jam 2 siang”
“Aku orang keberapa yang tahu?”
Belum sempat Arif menjawab
pertanyaannya, mereka mendengar suara teriakan seseorang. Seorang wanita.
“Arif...Arif...” Suara wanita itu
semakin mendekat.
Arif melepaskan pelukannya dan
berdiri..
“Heiii..” Arif menjawab sambil
melambaikan tangan.
“Siapa?” tanya Meidy enggan untuk
bediri.
“Vivi” Jawab Arif singkat
Vivi adalah teman Arif. Mereka sudah
lama berteman. Vivi juga masuk club badminton yang sama dengan Arif.
“Ngapain? Bukannya belajar sana.” Kata
Vivi yang kini sudah berdiri disamping mereka.
“Hari ini spesial Vi, ga boleh diganggu
sama apapun dan siapapun” Jawab Arif sambil melirik ke arah Meidy.
“Ohhh,,, Hei, Meidy apa kabar? Tanya
Vivi, yang seolah – oleh kaget melihat Meidy disitu.
“Baik kak. Kakak ngapain?” Jawab Meidy
yang kini sudah berdiri.
“Lho, Arif ga cerita ya? Rumah ku
didekat sini. Tadi aku ngeliat motor Arif di dekat parkiran umum, jadinya aku
engaja nyari. Hehehe”
Vivi memang tinggal di perumahan di
pantai ini.
“Arif, sidang hari kamis kan? Udah tau
siapa pengujinya?”
Belum sempat Arif menjawab, Meidy
meminta diri untuk pergi ke toilet.
Selama perjalanan ke toilet ia
dirundung marah. Mengapa dirinya seakan – akan menajdi orang yang tau kalau
Arif akan sidang? Kenapa Vivi sudah tahu sementara dirinya belum tahu? Ketika
ia kembali, ia mendapati Arif dan Vivi sedang tertawa bersama. Dalam hatinya ia
hanya berpikir bahwa Arif juga bisa tertawa bahagia tanpa ada dia.
Ketika Meidy kembali bergabung dengan
mereka, Vivi berpamitan untuk pulang dan ia mengundang Arif dan Meidy untuk
mampir.
“Ehh,, ga kak. Lain kali aja ya. Aku
ada kelas jam 2.”
“Ooo,, ia ni Vi, Meidy ada jelas jam 2”
kata Arif sambil melihat arlojinya yang sudah menunjukan waktu pukul 1.
“oo..okedeh... lain kali main ya...
daaa” kata Vivi lembut sambil melambai dan berlalu dari mereka.
“Sayang, yukk..” kata Arif lembut
sambil menggenggam tangan pacarnya itu.
Setelah Arif diwisuda, Arif bekerja di
kota lain, tidak begitu jauh hanya di tempuh dalam 2 jam perjalanan, tetapi hal
itu tidak memungkinkan Arif untuk selalu menemui Meidy. Pada saat Meidy
diwisuda, Arif juga tidak sempat datang. Apa yang menjadi ketakutan Meidy
menjadi kenyataan. Mereka sudah mulai sibuk dengan kesibukan mereka masing –
masing. Mereka mulai memiliki jarak yang jauh. Sangat jauh.
***
“kamu yakin mau main kesana? Lagi mendung
lho...”
“Ia Ren,, tenang aja. Aku naik bus
aja.”
“Dari dulu hobby banget naik bus”
“Biar...”
Hari ini, Meidy berniat main ke kota
lumpia itu, semenjak ia menyelesaikan
kuliah S1 di kota itu, ia pindah ke kota dingin ini untuk melanjutkan studinya.
Rena adalah teman sekos Meidy yang paling perhatian sama Meidy.
“Aku berangkat ya...”
“Ia, hati – hati.. kalo ada apa – apa
hubungi aku.”
“Okee...” Jawab Meidy sembari menuruni
tangga.
Ia kini sudah berada dalam bus yang
membawanya ke kota lumpia itu. Ia teringat pada Arif, semenjak itu belum ada
kata putus diantara mereka, tetapi hubungan itu selesai begitu saja. Sudah 5
tahun Meidy berada di pulau ini, dan sudah 5 tahun hanya Arif yang mengisi
hatinya. Ia masih menyimpan nomor Arif di kontaknya dengan mana My Sweet, sampai detik ini. Ia
memutuskan menghubungin Arif.
“Halo..” Suara di seberang menjawab
“Hei,, ini aku” belum sempat Meidy
melanjutkan, Arif sudah memotong.
“Ada apa Meidy?”
“kamu dimana?”
“Di rumah ni. Kamu?”
“Di jalan kesana.”
“Udah nyampe mana? Mau aku jemput?”
Arif menawarkan.
Tanpa sadar Meidy mengangguk – angguk
cepat dan tersenyum ia sangat bahagiaia lupa bahwa Arif tak bisa melihat apa
yang dia lakukan.
“hallo.. Meidy? Kamu disitu?”
“ehhh,, ia,,ia..jemput aku di halte
biasa aja”
“Oke. Kalo udah dekat kabari ya”
“Oke. Bye..” Meidy mematikan telpon dan
tersenyum. Ia sangat bahagia. Setidaknya Arif masih menyimpan nomornya.
Harusnya ia sudah menguhubungi Arif sedari dulu. Seharusnya ia tidanyak menjaga
gengsinya.
Ketika ia sudah mendekati halte, Meidy
menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Arif sudah menunggunya.
Arif menyalaminya, edangkan Meidy ingin
sekali memeluknya.
“Yukk,, kerumah dulu” Arif langsung
memeberikan helm dan melepaskan jaketnya pada Meidy.
Meidy menerima helm itu dengan senang
dan memakai jaket yang diberikan Arif. Ia sangat bahagia. Wangi Parfumnya masih
sama. Tak berubah sama sekali. Epanjang jalan mereka tak banyak bicara, Meidy
melihat ukiran 28:08 masih ada di helm yang dikenakan Arif. 28 Agustus masih
spesial bagi Arif. Meidy merasa bahwa penantiannya selama ini tidak sia – sia.
Masih ada cinta itu.
Belum jauh perjalanan mereka, hujan
mengguyur kota itu secara tiba – tiba.
“Hahahahaha” Meidy tertawa
“kenapa tertawa?” Arif bingung. Tapi memorinya kembali pada
beberapa tahun lalu ketika Meidy tertawa dipunggungnya dalam perjalanan ke
Bakso pak Kumis. Sepintas Arif ingin mengajak wanita itu ke warung pak Kumis,
tapi ia mengurungkan niatnya.
“Aku selalu bahagia ketika hujan turun”
Sekali lagi ingatan masa lalu kembali
menari di otak Arif. Kalimat yang Arif katakan ketika 28 Agustus 2009 di halte
bus. Air mata mengalir dari matanya. Arif tak bisa menahannya.
“kamu masih bahagia kalau hujan turun?
Tau ga Rif, selalu ada hal bahagia bagi kita ketika hujan turun” Meidy
melanjutkan kalimatnya tanap menyadari apa yang sedang dirasakan oleh Arif.
Mereka sampai di rumah Arif, warna
catnya sudah di ganti. Meidy masuk dan melihat kesekelilingnya Posisi ruang
tamu juga sudah berubah dan ada hal lain yang membuatnya kaget. Ada foto
pernikahan disana.
Siapa itu? ketika ingin mendekat, tante
Wati, mamanya Arif memanggilnya.
“Ehhh,, ada Meidy.. kamu ganti baju
dulu. Nanti masuk angin”
“Oo,, halo tante” Meidy meraih tangan
tante Wati dan tante Wati mengiringnya ke belakang.
Setelah selesai mengganti bajunya,
mereka ke ruang makan.
“Yukk, makan dulu” ajak Arif.
“Ia,, yuk makan. Tante masak semur
telur. Kamu sukakan?” tante Wati menambahkan dengan keramahannya yang tak
berubah. Hanya kerutan – kerutan di wajahnya yang semakin bertambah.
Meidy mengikuti saja dari belakang.
Ketika sedang makan, ada pemandangan yang tak biasa yang dilihat oleh Meidy,
Vivi keluar dari salah satu kamar.
“Ehh,, ada Meidy. Apa kabar?” Vivi
langsung menghampiri Meidy. Memeluknya dan mencium pipinya.
“Baik kak..” Meidy memeluknya tetapi
otaknya masih berpikir keras. Vivi bergabung di meja makan.
Meidy baru menyadari ada yang berubah
dengan jari manis Arif dan Vivi. Mereka memakai cincin yang sama. Tanpa
disadari air matanya menetes, jatuh ke pirinngnya. Huajn di luar tetap deras
dan bahkan semakin deras.
‘Mengapa aku menangis dikala hujan?
Bukankan hujan membuatku bahagia?’ Meidy berusaha menahan tangisnya. Ia
mengusap air matanya cepat – cepat. Kemudian ia berdiri.
“Meidy, kenapa sayang?” tanya tante
Wati.
“Ga tante. Emmm.. aku mau pulang saja.”
Jawab Meidy tak beraturan.
“Ini masih hujan sayang. Kamu juga baru
sampai. Pasti banyak hal yang harus diceritakan.” Tante Wati berbicara dengan
sangat lembut.
“Aku antar kamu pulang.” Arif berdiri
dan menarik tangan Meidy.
“Ma, Arif ngantar Meidy dulu” Pamitnya
kepada mamanya.
Meidy memeluk tante Wati , melambai kepada
Vivi dan kemudian keluar. Arif menyusulnya dari belakang.
Kali ini ia mengambil kunci mobil,
mengeluarkannya dari garasi dan Meidy sekarang sudah ada disampingnya. Mencoba
menahan air matanya.
“Sejak kapan kamu menikah?” suaranya
terlalu pelan sehingga tak dapat menyaingi suara hujan yang ada di luar. Arif
terdiam, entah karena tak mendengar atau tak mampu menjawab.
Arif menatap lurus, tanpa menoleh
kepada Meidy. Ia mangantar Meidy pulang, kembali ke kota dingin itu.
Meidy
tak akan membenci hujan. Ia beruntung karena hujan selalu membantunya menemukan
kenyataan. Baginya hujan pada tahun ini dan 5 tahun yang lalu akan memiliki kisah yang indah.